Folklore :Pantangan dalam kehidupan Masyarakat Dayak

Standard
Masyarakat Adat Dayak di Long Bagun melakukan ritual Tapoq untuk menyambut kedatangan Tim Ekspedisi Khatulistiwa

Masyarakat Adat Dayak di Long Bagun melakukan ritual Tapoq untuk menyambut kedatangan Tim Ekspedisi Khatulistiwa

Masyarakat adat Dayak hingga saat ini masih mempunyai kepercayaan tradisional yang memang sudah dipegang sejak jaman nenek moyang mereka. Walaupun saat ini bisa dikatakan jaman sudah modern, tetapi saya sangat mengapresiasi warga Hulu Mahakam yang hingga saat ini tidak pernah melupakan warisan nenek moyang mereka dalam hal apapun. Beberapa hal yang masih dipegang teguh hingga saat ini termasuk beberapa kepercayaan tradisional dan pantangan yang mungkin ketika diterapkan di masyarakat di luar lingkungan mereka seperti di kota-kota besar, hal ini hanya dianggap takhayul dan banyak yang tidak percaya.

Dalam wawancara yang saya lakukan dengan petinggi  Batu Majang, saya menemukan beberapa contoh folklore yaitu pantangan dari ajaran kepercayaan tradisional suku Dayak Kenyah. Salah satunya  yaitu kepercayaan petani dahulu jika mereka bertemu dengan ular dalam perjalanan ke ladang, maka itu merupakan pertanda buruk dan mereka harus segera pulang. Kemunculan ular dipercaya sebagai nasib sial yang akan mengikuti petani yang bekerja di ladang. Kepercayaan seperti itu merupakan ajaran dari kepercayaan kuno suku Dayak Kenyah yaitu Bungan Malan Silung Luan. Namun, kepercayaan tersebut sekarang sudah tidak ada karena keadaan jaman yang semakin modern. Dahulu, setiap dukun yang ada di kampung dapat memanggil apapun yang dia inginkan dan yang dipanggilnya pun pasti akan langsung datang. Dalam setiap upacara, jika sang dukun menginginkan datangnya burung, maka dipanggilnya seekor burung dan tidak lama kemudian burung yang dipanggilnya akan datang. Kepercayaan dan kemampuan seperti itu saat ini sudah tidak lagi hidup di masyarakat Dayak Kenyah karena adanya agama yang lebih kuat mempengaruhi kehidupan mereka.

Contoh folklore yang berupa pantangan saya dapatkan dalam masyarakat Dayak Bahau yaitu pantangan untuk tidak keluar rumah atau pergi jauh ketika hujan terik. Dalam masyarakat Bahau, terdapat pantangan untuk tidak bepergian ketika matahari bersinar terik tetapi turun hujan gerimis. Hal itu menandakan roh-roh atau hantu banyak yang keluar. Pada waktu seperti itu sangat rawan bagi seseorang untuk pergi, karena dikhawatirkan akan terjadi hal-hal buruk. Namun, jika keadaan mendesak dan seseorang harus pergi, maka disarankan agar menyelipkan daun di telinga sebagai penangkal hal buruk.

Oleh : Afifah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s