Upacara Perbaikan Adat atau Mongosang

Standard

Upacara Mongosang di Kampung Long Bagun Ulu (Dokumentasi Mama Hulo)

Mongosang merupakan suatu upacara yang dilakukan untuk memperbaiki adat  atau pelaksanaan suatu upacara yang tidak sesuai dengan ketentuan yang ada. Jika kesalahan yang dilakukan belum diperbaiki maka akan terjadi hal-hal buruk yang menimpa masyarakat di kampung.

Upacara Mongosang dilaksanakan di Lamin Adat Kampung Long Bagun Ulu

Menurut mamak Hulo, upacara perbaikan adat ini dilaksanakan atas inisiatif keluarganya karena sudah terjadi hal buruk yang menimpa masyarakat karena kesalahan yang dilakukan ketika upacara sebelumnya. Keluarga mamak Hulo sudah mencoba bermusyawarah dengan lembaga adat yang ada, tetapi tidak didukung oleh mereka untuk menyelenggarakan mongosang. Akhirnya mamak Hulo dan keluarganya melaksanakan upacara tersebut dengan biaya sendiri. Mongosang dilakukan selama seminggu di Lamin Adat yang ada di desa Long Bagun Ulu, dengan adanya proses karantina beberapa pria yang diumpamakan baru kembali dari ladang mereka dan telah melakukan pengayauan (pemenggalan kepala). Selama Mongosang para wanita tidak diperkenankan berada di dalam rumah lamin, kecuali pada saat penutupan upacara. Nyala api di rumah Lamin juga dilarang ketika proses karantina dilakukan, kecuali api dari dalam bilik di bagian belakang rumah lamin yang menjadi tempat karantina. Pada hari terakhir karantina, yaitu hari ketujuh, semua pria yang dikarantina tidak boleh tidur. Dari foto-foto yang ditunjukkan mamak Hulo, kami menyusun foto tersebut berdasarkan urutan upacara agar lebih mudah mendapatkan penjelasan dari setiap proses mongosang.

tepatung puteq

Yang pertama adalah peletakan batang pisang hutan dan pisang ambon di atas mebaang (gong datar) didirikan di tengah rumah lamin. Batang pisang yang dingin melambangkan agar kehidupan masyarakat dingin dan tidak mudah terpancing emosi. Makna lain dari batang pisang adalah penanda kesuburan dan ketentraman dalam masyarakat. Di sekeliling batang pisang juga terdapat bambu yang berdiri tegak dengan hiasan dari serutan kayu memanjang di sekitarnya. Bambu tersebut diisi dengan beras putih yang melambangkan adanya semangat masyarakat yang disatukan dan ditampung dalam bambu tersebut. Ketika acara selesai, nantinya semangat itu akan kembali dibagikan kepada masyarakat dengan bentuk pembagian beras dari dalam bambu. Harapannya, masyarakat akan selalu bersemangat dan pantang menyerah. Hiasan dari serutan kayu yang menyerupai rambut, dibuat dari bagian dalam batang kayu taringdung (dalam bahasa Bahau) yang diserut menggunakan pisau. Serutan kayu tersebut mempunyai  makna agar orang-orang yang datang ke kampung Long Bagun Ulu rambutnya seputih serutan itu, dengan hati yang bersih juga.

Hati babi sebagai salah satu media untuk melaksanakan adat Mongosang

Pada perlengkapan yang digunakan dalam upacara, ada 2 buah patung yang terbuat dari batang pisang, berupa patung laki-laki dan patung perempuan, diletakkan di dekat bambu yang berisi beras. Patung tersebut dalam bahasa Bahau dinamakan tepatung puteq. Kedua patung didandani dengan pakaian yang nantinya pada subuh hari ketujuh pakaian tersebut akan dilepas dan dibuang di sungai yang menyimbolkan pembuangan roh jahat dari kampung. Sebelum dibuang, patung akan digendong oleh beberapa orang penari dan dibawa berkeliling selama 8x mengelilingi bambu dan batang pisang di dekat tempat patung tersebut sebelumnya berada.

Proses upacara selanjutnya dilakukan di bagian luar rumah lamin dimana terdapat kayu ulin yang telah diukir dan terdapat di sisi kanan halaman rumah lamin. Di sekitar kayu ulin tersebut juga diletakkan bambu yang bagian atasnya dipasang papan dan disampingnya ada kayu yang dipasang miring dan digantungkan nasi yang dibentuk bulat kecil-kecil yang melambangkan pengembalian roh penjaga kampung yang berada di dalam kayu ulin. Di papan yang terpasang pada bambu, diletakkan nasi berwarna merah, hitam, putih dan kuning dengan maksud untuk memberi makan burung hisit. Letak nasi merah dan hitam tidak boleh di pinggir karena warna merah melambangkan keganasan, sehingga dikhawatirkan jiwa masyarakat menjadi ganas dan tidak tenang. Hitam melambangkan kegelapan yang dapat membuat masyarakat tidak melihat apa-apa dan akan sulit dalam mencari rejeki. Dalam kepercayaan masyarakat Dayak Bahau, burung hisit dapat menunjukkan kejadian yang akan terjadi, baik hal baik maupun buruk. Jika terlihat burung terbang ke arah kiri, maka kejadian buruk akan menimpa masyarakat kampung, begitu juga sebaliknya. Menurut Mamak Hulo, kayu ulin tersebut pertama kali didirikan oleh kepala adat yang pertama, yaitu kakek beliau. Namun, kayu ulin yang sekarang sudah diperbarui dan diganti dengan yang baru karena kayu yang sebelumnya sudah rusak dan lapuk. Dalam upacara ini, kayu ulin yang ada di depan rumah lamin juga akan diolesi dengan tepung tawar sebagai penghomatan terhadap roh penjaga kampung.

Urutan selanjutnya dalam upacara adalah mandi di bawah pancuran air yang dituang melalui mulut burung Enggang. Dalam bahasa Bahau, kegiatan ini disebut dengan teli ubung langit yang berarti pancuran dari langit. Makna dari teli ubung langit adalah pembersihan segala hal buruk dari kampung. Jika orang yang dimandikan merupakan keturunan dari tokoh adat atau bangsawan, maka akan merasa panas, tetapi jika tidak, maka orang tersebut akan menggigil walaupun air yang dipakai adalah air biasa. Air tersebut dialirkan dengan pipa air kecil yang di bagian ujung dimasukkan ke dalam rongga mulut Enggang yang sudah dipotong kepalanya, sehingga air tersebut dapat keluar melalui moncong Enggang. Orang yang dimandikan harus berdiri di alasi mebaang dan diberi parang 1buah.

Dalam rangkaian upacara mongosang, dilarang memakan daging payau, kijang, pelanduk dan babi hutan baik jantan maupun betina, tetapi boleh makan daging babi kampung jantan. Sedangkan babi betina kampung juga tidak boleh dimakan. Begitu juga dengan ayam, yang boleh dimakan hanyalah ayam jantan, bukan ayam betina. Setiap orang yang menyelenggarakan mongosang harus berkorban 1 ekor babi jantan dan 2 ekor ayam jantan. Upacara pemotongan babi dilakukan sebelum pemandian. Ketika babi sudah dipotong, maka tetua adat akan mengambil hati dan empedunya kemudian dilihat dan ‘dibaca’ untuk mengetahui nasib kampung setelah upacara ini dilaksanakan. Dari urat yang ada di hati babi tersebut, maka akan terlihat kehidupan masyarakat kampung baik sosial maupun ekonomi berjalan baik atau ada halangan. Jika empedu yang ada padat berisi, maka masyarakat kampung akan mudah dalam mencari rejeki, sebaliknya jika empedunya kosong, maka itu menandakan bahwa kehidupan ekonomi kampung akan sulit.

Pada puncak pelaksanaan upacara perbaikan adat yaitu hari ketujuh karantina, di rumah lamin sudah diperbolehkan menyalakan api setelah secara simbolis tokoh adat menyalakan api dengan cara menggosokkan rotan dengan sebuah kayu yang digantung dan dibawahnya terdapat serabut dari pohon sejenis kelapa atau palem untuk menampung percikan api dari gesekan rotan. Idealnya, proses ini dilakukan sebanyak 3x hingga api menyala. Hal itu menandakan bahwa nasib kampung di masa depan akan baik. Jika lebih dari 3x api baru menyala, maka nasib kampung kurang begitu baik.

Di kampung Long Bagun Ulu, adat yang tampaknya sepele dan remeh juga masih ditaati dengan tekun oleh masyarakat. Mamak Hulo mencontohkan tentang larangan bermain sembarangan dengan hewan, terutama kucing dan belalang. Apabila seorang anak baru pulang bermain, orang tua yang khawatir anaknya bermain belalang atau hewan sembarangan akan langsung memotong sebagian rambut anak tersebut dan dibakarnya. Hal itu dilakukan sebagai syarat atau permohonan maaf kepada roh-roh penjaga binatang. Menurut mamak Hulo, upacara perbaikan atau upacara untuk menebus dosa juga dilakukan jika terjadi perkelahian hingga mengeluarkan darah. Pihak yang memulai perkelahian harus mengadakan upacara tutung.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s