Upacara Alak Tau – Menentukan Waktu Nugal

Standard

Lamin Adat Kampung Rukun Damai. Lamin Adat memiliki peran yang penting sebagai balai penyelenggaraan upacara adat.

Di kampong Batu Majang ini, ada 3 upacara besar yang dilaksanakan tiap tahunnya, yaitu upacara Alak Tau, Uman Ubek dan Tebukoq. Yang dimaksud dengan Alak Tau adalah upacara yang dilakukan sebelum menugal di ladang. Dahulu, upacara ini dilakukan untuk mengukur matahari dalam menentukan waktu yang tepat untuk menanam padi. Manurut Pak Yosef, beliau tidak begitu mengerti mengenai upacara ini, tetapi secara garis besar beliau mengetahuinya.

Upacara ini diawali dengan menancapkan kayu yang kemudian diatasnya diberi papan dan diletakkan di tengah kayu. Di sisi papan tersebut akan digantungkan buah jeruk yang sama beratnya untuk mengukur bayangan matahari. Di bawah jeruk, nanti akan diletakkan sebuah papan untuk menangkap bayangan matahari yang kemudian diikat dan diukurkan di tangan tetua adat yang memimpin upacara ini. Ketika bayangan matahari yang diukur hanya sampai di tengah antara pergelangan tangan dan siku, maka itu tandanya masa yang buruk untuk menanam karena padi akan habis dimakan burung pipit. Masa yang bagus untuk menanam padi yaitu ketika bayangan matahari yang diukur sampai pada gembungan tangan sebelum siku. Hal ini menandakan padi akan bagus dan berisi, sehingga tidak lama kemudian masyarakat akan memulai penugalan di ladang. Namun, pada jaman sekarang, upacara ini hanya dilakukan sebagai formalitas dalam rangka meneruskan warisan nenek moyang Dayak Kenyah, dan waktu penanaman padi tidak terbatas pada hasil pengukuran dalam acara Alak Tau, tetapi mereka sudah mengetahui waktu penanaman yang baru yaitu pada bulan 9 dan bulan 10.

Upacara besar yang kedua adalah Uman Ubek yaitu acara makan emping dan makan padi baru. Emping yang dimakan dalam upacara ini adalah padi ketan yang telah dipanen kemudian digoreng dan ditumbuk. Emping ini dimakan secara bersama-sama oleh warga kampong.

Upacara Tebukoq di Long Bagun disertai dengan lomba tarik rotan

Selanjutnya, upacara terakhir dalam rangkaian ini adalah tebukoq dalam bahasa Bahau yaitu upacara yang dilakukan sebagai tanda penutupan masa panen. Dalam upacara ini juga ada tradisi memakan kue dari ketan yang ditumbuk kemudian dibentuk bulat kecil, dibungkus daun pisang dan dibakar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s