Permainan Tradisional suku Dayak

Standard

Oleh Afifah

Suku Dayak yang ada di tanah Borneo sangat beragam dan memiliki beratus-ratus sub suku yang tersebar di seluruh pulau. Setiap suku dan sub-sukunya selalu memiliki kearifan local, tradisi dan budaya masing-masing. Dalam kebudayaan sebagian suku Dayak yang saya temui di Hulu Mahakam, ada beberapa hal yang mempunyai faktor kemiripan antara suku yang satu dengan yang lain. Beberapa permainan di bawah ini dimainkan tidak hanya oleh satu suku saja, tetapi oleh beberapa suku lain, walaupun tidak secara persis sama.

1. Gabat

Permainan ini dimainkan oleh beberapa anak kecil. Permainan diawali dengan menggambar sebuah bentuk di tanah dan di dalamnya dibagi-bagi menjadi kotak-kotak untuk tempat jalan pemain. Setiap pemain diharuskan mempunyai gabat atau tanda sebagai syarat permainanan. Setiap pemain harus mempunyai 1 gabat masing-masing. Gabat biasanya berbentuk pipih, dan pemain bebas memilih gabat mereka dari benda apapun yang disukainya. Biasanya yang digunakan sebagai gabat adalah batu, pecahan genteng, pecahan plafon atau bahkan kayu tipis. Ukuran gabat tidak ditentukan, sesuai keinginan pemain.

Gabat

Awalnya, setiap gabat diletakkan di urutan pertama jalannya permainan (lihat gambar).  Pemain harus jalan melewati setiap kotak tanpa menyentuh garis pinggir kotak. Kotak yang telah terisi gabat tidak boleh diinjak/dilewati. Jika gabat ada di kotak nomor 1, maka pemain harus berjalan melewati kotak 2-3-4-5-6-7-8-6-5-4-3-2, kemudian mengambil gabatnya di nomor 1 dan keluar kotak. Kemudian pemain melanjutkan meletakkan gabatnya dengan cara dilempar ke kotak nomor 2. Karena kotak nomor 1 dan nomor 2 telah terisi gabat, maka pemain harus langsung menuju ke kotak 3 dan melanjutkan permainan seperti sebelumnya. Hal itu terus berlanjut hingga pemain terakhir.

Ketika gabat dari kotak terakhir sudah diambil dan pemain sudah lolos, maka pemain tersebut harus menendang gabatnya perlahan-lahan dengan satu kaki dan kaki lainnya terangkat, melewati kotak demi kotak sesuai urutan seperti permainan sebelumnya.

Jika seseorang sudah sampai di kotak terakhir, maka pemain tersebut harus melempar gabatnya dengan cara menutup mata dan membelakangi kotak. Tampat jatuhnya gabat pemain tersebut nantinya menjadi kapit pemain atau sawah, dimana kotak yang menjadi kapit salah satu pemain tidak boleh diinjak oleh pemain lain.

Gabat dimainkan oleh suku Dayak Bahau dan Dayak Kenyah – Uma Tukung

2. Ukau

Ukau adalah permainan menggunakan batu kerikil kecil yang berjumlah 5 buah. Permainan ini dapat dimainkan oleh beberapa orang sekaligus. Tidak ada aturan yang membatasi permainan ini. Permainan diawali dengan melempar secara pelan 5 batu tersebut ke lantai atau tanah. Ambil salah satu batu kemudian lempar ke atas dan secara bersamaan ambil 1 batu yang tergeletak di bawah. Lakukan hingga batu yang di bawah habis. Langkah selanjutnya tidak berbeda, hanya batu yang diambil berjumlah sekaligus 2 buah, kemudian dilanjutkan 3. Selanjutnya, jika ingin mengambil 4 batu sekaligus karena 1 batu menjadi lemparan, 4 batu tersebut harus ditelungkupkan menjadi 1 bersamaan dengan melempar satu batu yang telah dipilih. Jadi, awalnya 5 batu tersebut berada di telapak tangan, kemudian lempar ke atas salah satu batu pelempar dan telungkupkan 4 batu ke tanah dan segeralah menangkap batu yang dilempar tadi. Langkah permainan yang selanjutnya adalah 5 batu tersebut dilempar ke atas dan ditangkap menggunakan punggung tangan. Jika sudah ada di punggung tangan, lempar lagi batu tersebut dan tangkap menggunakan telapak tangan menghadap ke depan, bukan menunggu jatuh ketika telapak tangan terbuka ke atas. Pemain akan dianggap mati atau gagal jika tidak bisa menangkap batu pada masing-masing tahap permainan kecuali tahap penangkapan dengan punggung tangan. Jika salah satu pemain gagal, maka itu waktunya pemain lain menjalankan permainan. Begitu seterusnya hingga seluruh pemain menyelesaikan permainan ini.

Ukau dimainkan oleh suku Dayak Kenyah di desa Rukun Damai

3. Beyang

Beyang dalam bahasa Indonesia diartikan gasing. Permainan ini dilakukan oleh anak-anak dari balita hingga SMP baik laki-laki maupun perempuan. Beyang terbuat dari kayu, yang dibentuk seperti bawang tetapi memiliki pangkal yang digunakan untuk mengikat tali beyang. Beyang harus dibentuk simetris agar dapat berputar lama dan bagus. Ukuran beyang macam-macam, ada beyang yang kecil dengan tinggi 8cm, ada juga beyang yang besar dengan tinggi mencapai 20cm dan lebar 10cm. Beyang dapat dibuat melingkar seluruhnya dengan pangkal dibawah dan ujung yang lancip. Namun, ada juga beyang yang badannya dibuat agak pipih atau gepeng, dengan pangkal dan ujung yang lancip. Beyang diputarkan dengan cara melilitkan tali pada pangkal beyang yang memang dibuat untuk melilitkan tali. Panjang tali beyang biasanya sepanjang lilitan hingga setengah tinggi beyang. Tali beyang mempunyai ujung yang kecil hingga setengah panjang tali, kemudian talinya semakin ke pangkal semakin besar. Ketika tali sudah dililitkan, sisakan sedikit tali beyang agar dapat kita pegang untuk memutarkannya. Beyang diputar dengan cara dilempar ke tanah sambil menarik tali beyang.

Permainan Beyang yang saya temukan di kampung Tiong Ohang kecamatan Long Apari dimainkan oleh beberapa anak SD di lapangan voli. Mereka saling mengadu beyang masing-masing. Awalnya, semua pemain harus memutarkan beyang mereka secara bersamaan, kemudian dilihat beyang milik pemain mana yang berputarnya paling lama. Tahap permainan berikutnya ditentukan oleh urutan beyang yang paling cepat berhenti. Pemain tersebut akan memutarkan beyang miliknya kemudian beyang tersebut akan ditimpa oleh beyang pemain berikutnya yang berhenti setelah pemain pertama. Jika tidak terkena, maka pemain berikutnya yang akan melempar beyang milik pemain pertama sesuai urutan berhentinya beyang pada awal permainan. Tahap pelemparan beyang pemain satu ke pemain yang lain disebut nyuk. Jadi, pemain 2 nyuk ke pemain 1, pemain 3 nyuk ke pemain 2 dan seterusnya. Pemain yang beyangnya berputar paling lama akan mendapat giliran nyuk terakhir dan dirinya mendapatkan nyuk dari pemain pertama. Permainan berhenti sesuai dengan keinginan pemain, tidak ada batas akhir permainan.

Beyang dimainkan oleh suku Dayak Penihing, Suku Kayan dan Dayak Kenyah-Uma Tukung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s