Mandau dalam Kehidupan Masyarakat Suku Dayak Bahau

Standard

Bapak Hingan, petinggi kampung Long Bagun Ulu menjelaskan

Masyarakat Dayak memiliki sebuah senjata khas suku mereka yang dari jaman dahulu digunakan untuk berperang dan menjadi salah satu barang paling berharga bagi mereka hingga sekarang. Benda yang dimaksud adalah Mandau atau parang. Bentuk parang tersebut sangat unik karena bagian pangkal (hulu) pegangan parang tersebut terbuat dari tulang tanduk rusa dan diukir dengan desain dan bentuk yang sangat rumit. Parang tersebut biasa digunakan pada upacara tertentu seperti pemberian nama anak. Pangkal parang tersebut terbuat dari kayu, bukan tulang atau tanduk. Ukiran yang ada juga tidak serumit ukiran parang yang sebelumnya.

Hulu Mandau yang terbuat dari tanduk payau (rusa) dengan ukiran yang detail

Pada jaman dahulu, parang digunakan orang dayak untuk mengayau atau memenggal kepala orang lain. Pemenggalan itu dilakukan dengan beberapa tujuan, tidak secara sembarang dilakukan. Di parang tersebut, ada tanda jumlah kepala yang sudah dipenggal. Tanda itu berbentuk garis yang dibuat di pangkal parang atau di bagian atas ujung parang. Pada beberapa parang terdapat tanda tersebut. Ada yang sudah digunakan untuk memenggal 7 orang, ada juga yang hanya 2 orang.

Mandau biasanya digunakan sebagai barang pusaka, atau senjata tajam

Upacara pemberian nama dalam masyarakat Dayak Bahau ada 2 macam, yaitu pemberian nama kecil dan pemberian nama besar. Pada upacara pemberian nama kecil atau dalam bahasa Bahau adalah Usu Teloh anak kecil akan diusap dengan telor ayam kampong di bagian dahi yang menurut masyarakat di sana telor ayam kampong itu dapat mendinginkan kepala anak. Sedangkan upacara pemberian nama besar disebut dangei anak dimana dalam upacara tersebut sang anak yang akan diberi nama besar harus melompati parang yang telah menjadi pusaka keluarga. Peristiwa tersebut mempunyai makna bahwa jika nanti anak laki-laki yang diberi nama besar tersebut pergi merantau dalam perjalanan hidupnya, maka dia akan berhasil. Upacara ini juga mempunyai maksud untuk mengukuhkan anak bahwa dia sudah berhak menyentuh dan menggunakan pusaka keluarganya, serta dia tidak akan kualat ketika menyentuhnya. Jika seseorang belum diberi nama besar, maka orang tersebut tidak diperbolehkan menyentuh barang pusaka. Di kampong Long Bagun Ulu ini, masyarakat sangat mematuhi peraturan ini dan tidak ada yang berani melanggar. Menurut pak petinggi, ayah beliau sudah pernah mengalami kejadian buruk karena mencuci keris. Tangan beliau membengkak hingga lengan dan dapat disembuhkan dengan cara tertentu secara adat kepercayaan mereka. Pelaksanaan upacara dangei anak dilaksanakan sesuai dengan kemampuan keluarga dan tidak terikat usia anak. Upacara boleh dilaksanakan di usia berapapun saat keluarga merasa mampu menyelenggarakan upacara karena upacara ini membutuhkan biaya yang sangat besar.

Dalam masyarakat Bahau, mereka terbagi menjadi beberapa derajat status sosial. Yang paling tinggi adalah hipui atau sering disebut kaum raja. Di bawah hipui adalah penggawa dan derajat yang paling rendah atau untuk orang biasa adalah panyin. Menurut pak petinggi, harga diri perempuan dapat dinilai dengan barang berharga seperti parang, gong dan guci. Nilai barang dan harga diri itu tetap dan diwariskan turun temurun. Nilai harga seorang perempuan akan sama besar dengan nilai ibunya. Misalnya nilai ibu 4 parang, 1 gong dan 1 guci, maka nilai anaknya pun harus sama seperti itu, jika melebihi atau pun kurang, maka akan berdampak pada keturunan selanjutnya yang akan lahir cacat.

Ketika seorang pria akan menikahi seorang perempuan tetapi belum mempunyai dana yang cukup untuk melangsungkan upacara pernikahan dan berkeluarga, maka pria tersebut akan datang ke rumah perempuan tersebut dan menyerahkan sebuah parang untuk menandakan ikatan di antara mereka berdua. Perempuan itu akan menggantung parang di depan pintu kamarnya dan dia harus menunggu sampai kapan pria yang memberinya parang siap untuk melangsungkan upacara. Begitu juga dengan pihak pria yang juga harus menjaga janji mereka yang sudah diikat dengan parang tersebut. Jika salah satu di antara mereka melanggar, maka akan dikenakan denda 2kali lipat harga parang yang menjadi tanda ikatan mereka. Untuk Dayak Tunjung dan Benuaq, biasanya mereka tidak hanya memberikan parang saja, melainkan juga sebuah mangkok putih dan sebuah piring putih.

Parang dalam masyarakat Bahau digolongkan menjadi 4 jenis. Yang pertama adalah parang yang digunakan sebagai pelindung wanita yang merupakan tanda ikatan antara pria dan wanita. Parang tersebut menurut bahasa Bahau adalah hendang tega. Parang yang kedua digunakan ketika melamar sebagai kepastian akan adanya pernikahan. Jenis yang ketiga bernama telesik ingan sebagai symbol atau tanda ketika seorang pria pertama kali menginjakkan kaki di sudut tilam seorang perempuan. Parang yang keempat bernama Luiq taah yang merupakan symbol bagi pria ketika membuka keperawanan seorang perempuan (membuka atau menyentuh pertama kali penutup kemaluan perempuan). Symbol ini sangat melekat dalam tradisi masyarakat Bahau.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s