BERPIKNIK DI “PULAU” MAHAKAM

Standard

Usang Adat, merupakan adat yang dilakukan setelah pesta pernikahan yang dilakukan di tengah pulau yang ada di Sungai Mahakam untuk menolak bala

Oleh : Anis Kurniasih

Jika mendengar kata piknik, pikiran kita biasanya langsung tertuju pada sebuah aktivitas bersantai, menikmati waktu senggang atau hanya sekedar mengistirahatkan diri dari rutinitas sehari – hari. Sebagaimana masyarakat pada umumnya, penduduk sekitar Mahakam memiliki kebiasaan berpiknik disaat – saat senggang atau ketika ada hal – hal yang perlu dirayakan. Uniknya, penduduk Mahakam gemar berpiknik di “pulau” dengan membawa perbekalan berupa makanan dan minuman untuk disantap di pulau tersebut. Sambil menyiapkan dan menikmati hidangan, alunan musik khas Dayak diiringi tarian turut mewarnai suasana berpiknik di “pulau” ini. Bahkan di Kota Tenggarong pun terdapat sebuah “pulau” di tengah Mahakam disebut “Pulau Kumala” dan menjadi salah satu destinasi wisata di kota tersebut, hal ini membuktikan betapa keberadaan “pulau – pulau” di aliran Mahakam sangat penting bagi masyarakat sekitar Mahakam. Hal yang mengundang perhatian adalah, pulau seperti apakah yang dikunjungi untuk berpiknik ini? Bukankah pulau itu harusnya berada di tengah lautan, kenapa di Mahakam bisa ada pulau?

 “Pulau” di Tengah Aliran Mahakam

Masyarakat sekitar Mahakam menyebut “pulau” ini dengan istilah “kerangan”. Ternyata, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kerang-an dapat berarti batu – batu dan sebagainya yang diatur berderet – deret untuk tumpuan berjalan di tempat yang becek. Jika dicocokkan dengan wujud aslinya, kerangan terdiri dari sekumpulan batu – batu yang terkumpul membentuk semacam pulau di tengah aliran sungai Mahakam. Jadi kurang lebih pengertian kerangan menurut kamus dengan penyebutan oleh masyarakat setempat dapat dibilang cocok.

Saat pertama kali berpiknik di kerangan, hal yang pertama saya amati adalah kumpulan batu – batu yang rata – rata ukuran dan bentuknya seragam namun jenis batuannya macam – macam. Sebagai “tukang batu” saya penasaran, bagaimana bisa sejumlah banyak batu dengan ukuran dan bentuk sama dapat berkumpul membentuk daratan di tengah aliran sungai Mahakam yang luas. Rupanya dalam ilmu geologi, hal ini dapat dijelaskan sekaligus menginformasikan hal penting dalam sejarah pengendapan sungai.

Sedimentologi merupakan salah satu cabang dalam ilmu geologi yang khusus mempelajari tentang proses pengendapan sedimen atau sedimentasi di berbagai lingkungan, baik laut maupun darat. Lingkup studi sedimentologi diantaranya adalah tentang lingkungan pengendapan di darat yaitu sungai dan gurun. Sungai, dalam sedimentologi memiliki arti luar biasa karena sungai adalah aliran air dalam jumlah besar yang membawa pecahan – pecahan batuan dari hulu ke hilir, yang dalam istilah geologi dikenal dengan material sedimen, sehingga dalam hal ini sungai adalah agen transportasi yang membawa sedimen sekaligus menjadi tempat mengendapnya sedimen dengan karakter tertentu. Karakter – karakter sedimen ini penting karena dapat menunjukkan lokasi pengendapan dan membawa informasi proses serta faktor – faktor yang berpengaruh selama proses sedimentasi.

Kerangan Sungai Mahakam di Kutai Barat yang nampak dari Helikopter

Kerangan Sungai Mahakam di Kutai Barat yang nampak dari Helikopter

Definisi “pulau” di tengah aliran sungai dalam sedimentologi umumnya dikenal dengan istilah “channel lag deposit” yang terbentuk dari hasil pengendapan oleh sungai. Batuan yang terendapkan di tempat ini berasal dari pecahan – pecahan batuan di sekitar hulu sungai yang terbawa oleh aliran sungai. Channel lag deposit terbentuk di tengah aliran sungai dan batuan yang tertumpuk berukuran gravel (2 – 256 mm). Tumpukan sedimen ini harusnya terbawa oleh aliran sungai, namun dikarenakan ukurannya yang sangat kasar maka aliran sungai normal tidak mampu mengangkutnya hingga ke hilir dan akhirnya tertumpuk di tengah aliran sungai. Namun jika suatu ketika sungai mengalami banjir maka tumpukan batuan ini akan terbawa kembali oleh aliran sungai dan ketika banjir mulai surut akan terendapkan kembali di tempat lain. Jadi begitulah, “pulau” yang menjadi destinasi berpiknik masyarakat sekitar Mahakam sebenarnya adalah sebuah tumpukan batuan yang tidak mampu lagi dibawa oleh aliran sungai, dan suatu saat akan terbawa oleh banjir dan mengendap di tempat lain.

Sebenarnya dalam sedimentologi sendiri, ada beberapa istilah yang mengacu pada endapan sedimen di lingkungan sungai. Perbedaannya terutama dari ukuran butir material sedimen dan struktur yang terbentuk serta energi yang mengangkutnya, selain itu ada bagian – bagian sungai yang menjadi tempat pengendapan sedimen dengan karakter tertentu. Contohnya point barflood basinnaturan leveeoxbow lake deposit dan lain – lain. Dengan mengetahui karakter – karakter sedimen yang terbentuk kita dapat mengetahui proses pengendapan oleh sungai, sehingga bagi orang geologi mempelajari endapan sedimen adalah sangat penting.

Sungai Mahakam sendiri, merupakan sungai yang dikenal memiliki aliran berkelok – kelok (meandering) dan membawa material sedimen dalam jumlah besar. Oleh karenanya muara sungai Mahakam membentuk delta yang menjadi salah satu delta yang paling banyak dipelajari karena proses pembentukan delta hingga saat ini masih berjalan dan delta yang terbentuk dianggap memiliki karakter yang ideal oleh para ahli sedimentologi dan stratigrafi.

“Pulau” yang membawa informasi penting

Berpikinik di kerangan (pulau tengah sungai), perhatikan bebatuan dan pasir yang menyusun

“Pulau” yang keberadaannya sangat penting dalam kebudayaan masyarakat sekitar sungai Mahakam, memiliki banyak arti penting pula bagi geologi. Selain sebagai tempat berekreasi dan bersantai, “pulau” juga membawa informasi penting seputar jenis batuan di daerah hulu sungai serta proses – proses yang terjadi di sepanjang aliran sungai dari hulu ke hilir. Dengan mengamati pecahan – pecahan batuan yang menumpuk di tempat ini kita dapat mengetahui jenis batuan apa saja yang terdapat di daerah sekitar hulu. Jadi dalam penelitian geologi adakalanya kita perlu mengamati endapan sungai, karena batuan yang terendapkan di hilir pasti berasal dari sebuah tempat di sekitar hulu sungai. Dengan demikian kita akan mendapat gambaran batuan – batuan apa saja yang mungkin kita temukan jika kita meneliti daerah hulu sungai dan sekitarnya.

Demikianlah, ternyata hal – hal yang kita anggap sepele dapat menunjukkan kepada kita betapa alam itu hidup dengan cara dan mekanismenya sendiri. Tak hanya tumbuhan dan hewan, bahkan sungai pun hidup dan memberi pesan kepada kita untuk selalu mencari dan mempelajari fenomena alam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s