CATATAN PERJALANAN TIM GEOLOGI DAN POTENSI BENCANA

Standard

Oleh: Anis Kurniasih

Singkapan batubara di lokasi penambangan batubara di Mamahak

Ini hari ketiga dan kali pertama saya melihat pelangi di langit sore Long Bagun. Waktu itu kami baru kembali dari jantur untuk berenang dan mencari tumbuhan di sekeliling jantur. Semburat pelangi menghiasi langit panas Long Bagun setelah seharian hujan deras. Berpadunya warna warni pelangi mengingatkan saya akan pesona ‘warna – warni’ batuan yang saya temui di endapan sungai Mahakam. Betapa beruntungnya saya, dapat menyaksikan pemandangan alam hebat, terjalnya bebatuan, derasnya sungai Mahakam dan keberagaman budaya masyarakat. Kesempatan seperti ini tak akan dapat saya peroleh jika saya tidak mengikuti Ekspedisi Khatulistiwa. Ekspedisi Khatulistiwa sendiri merupakan ekspedisi penelitian dan penjelajahan di pedalaman Kalimantan khususnya daerah perbatasan untuk melakukan pendataan potensi sumberdaya alam dan budaya masyarakat yang unik serta menarik untuk dipelajari.

Ekspedisi Khatulistiwa ini merupakan ekspedisi kedua saya setelah tahun lalu saya mengikuti Ekspedisi Bukit Barisan. Tidak diragukan lagi jika medan Kalimantan jauh lebih menantang dibanding Sumatera, tapi bukan hanya tantangan yang saya cari, sebagai seorang geolog banyak hal yang jauh lebih dari sekedar menantang untuk saya datangi dan teliti. Di mata geologi, pulau Kalimantan menyimpan banyak potensi sumberdaya energi dan mineral, sementara dari segi kebencanaan pulau Kalimantan masih dianggap sebagai pulau teraman dan tidak tersentuh oleh bencana apapun jika disebandingkan dengan pulau lain di Indonesia seperti Sumatera, Jawa , Sulawesi dan Papua.

penemuan sumur gas hidrokarbon di Sungai Betung oleh tim geologi

Dalam ekspedisi yang hanya beberapa bulan ini, saya yang tergabung dalam unit geologi dan potensi bencana, dituntut untuk mengungkapkan potensi dari segi geologi Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur. Melihat banyaknya potensi geologi di daerah ini sementara waktu yang ada sangat terbatas, maka  hal – hal yang kami teliti dikonsentrasikan pada hal – hal yang selama ini belum banyak diketahui masyarakat luas. Potensi sumberdaya energi di Kalimantan Timur antara lain adalah hidrokarbon atau lebih dikenal dengan minyak dan gas bumi (migas), potensi ini terdapat di daerah delta sungai Mahakam sekitar kota Samarinda, beberapa sumur migas dari perusahaan negara dan swasta telah berproduksi sekian tahun. Selain itu, potensi sumberdaya energi yang tak kalah penting dari Kalimantan timur adalah batubara. Mulai dari daerah hilir hingga ke hulu sungai Mahakam, singkapan batubara pada perselingan lapisan batupasir dan batulempung dijumpai dengan baik, tak heran jika banyak perusahaan tambang batubara membuka konsesi pertambangan baru hampir tiap tahun di beberapa kabupaten di Kalimantan Timur. Untuk kabupaten Kutai Barat, penambangan batubara menjadi salah satu sumber pendapatan daerah yang menjanjikan disamping hasil kehutanan.

Seorang warga yang sedang mendulang emas di aliran Sungai Boh

Selama tiga bulan penelitian, tim geologi berusaha mencari potensi sumberdaya mineral seperti emas, uranium dan mineral ekonomis lainnya. Sejauh yang kami ketahui, potensi sumberdaya mineral di Kalimantan kurang diperhatikan karena saat ini lebih dikonsentrasikan untuk mengeksploitasi sumberdaya batubara dan migas. Dari data sekunder, diketahui potensi mineral yang ada di Kutai Barat antara lain emas, dan dari penelitian di lapangan dijumpai lokasi penambangan emas tradisional di hulu Sungai Boh yang merupakan salah satu anak sungai Mahakam. Penambangan emas dari endapan placer tersebut dilakukan secara illegal dan tanpa koordinasi dari pemerintah setempat, dikhawatirkan dapat menimbulkan permasalahan lingkungan seperti pencemaran sungai. Berdasarkan peta geologi lembar Long Pahangai (Abidin dkk, 1993), diperkirakan sumber bijih emas yang besar berasal dari batuan granitik di daerah perbukitan sekitar hulu Sungai Boh dan Mamahak. Selain emas, tim geologi juga meneliti tentang potensi uranium yang diperkirakan berada di sekitar sumber bijih emas karena secara teori uranium terdapat pada batuan beku asam seperti granit dan dijumpai dalam mineral uraninit yang biasanya akan ditemukan bersama emas, pirit dan mineral sulfida lainnya. Alih – alih menemukan uranium, kami justru menemukan potensi yang tak terduga yaitu gas hidrokarbon yang keluar  ke permukaan melalui sebuah sumur tua di dekat Sungai Betung, Mamahak. Dari identifikasi di lapangan, gas tersebut keluar melalui rekahan pada lapisan batulempung, dan terkandung pada lapisan batupasir yang berada di bawah lapisan batulempung. Gas hidrokarbon merupakan gas yang sangat mudah terbakar karena gas ini memiliki kandungan karbon tinggi dalam fasa gas dan dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar untuk kebutuhan rumah tangga maupun industri.

salah satu potensi wisata di daerah Batu Dinding yang merupakan topografi kars

Selain sumberdaya energi dan mineral, Kutai Barat memiliki potensi wisata geologi yang sangat menarik namun belum banyak publikasi dan promosi untuk menarik wisatawan. Sebut saja sungai Mahakam, sungai terbesar di Kalimantan Timur ini berasal dari aliran anak – anak sungai di pedalaman Kutai Barat, bahkan Kutai Barat sendiri mendapat julukan sebagai “pintu gerbang hulu Mahakam”, menyimpan berjuta pesona yang memikat para pendatang dan wisatawan. Kelokan sungai Mahakam membelah perbukitan terjal yang membentuk tebing dan memperlihatkan lapisan batuan yang eksotik dan oleh penduduk setempat yang mayoritas suku Dayak dimanfaatkan sebagai makam sejak jaman leluhur mereka. Tempat yang paling menarik perhatian kami adalah Batu Dinding, terletak di tepi sungai Mahakam di daerah Mamahak, merupakan situs makam suku Dayak kuno yang berupa tebing terjal dengan susunan batuan berupa batugamping membentuk topografi kars. Lokasi ini sangat menarik secara geologi maupun arkeologi namun jarak dan medan tempuhnya sangat sulit dicapai, sehingga perlu adanya infrastruktur penunjang baik bagi peneliti maupun wisatawan untuk mencapai lokasi tersebut.

Secara keilmuan, Kutai Barat bisa dianggap sebagai laboratorium alam bagi ilmuwan geologi karena memiliki kondisi geologi yang kompleks disamping potensi sumberdaya energi dan mineral yang tinggi. Ironisnya kondisi ekonomi dan sosial masyarakat masih jauh dibawah yang seharusnya mengingat besarnya potensi di daerah ini. Kondisi ini diperparah dengan tidak tersedianya sarana transportasi yang memadai sehingga proses pengembangan potensi daerah terutama di pedalaman menjadi terhambat. Hal – hal yang seperti inilah yang seharusnya menjadi perhatian pemerintah pusat dan pemerintah setempat untuk dapat memeratakan kesejahteraan di daerah – daerah tertinggal. Peran Ekspedisi Khatulistiwa dalam hal ini adalah mengungkap potensi terpendam yang selama ini hanya menjadi bahan pembicaraan menjadi data faktual yang dibuktikan dengan penelitian langsung di lapangan.

Selama penelitian, tim kami banyak terjun dan berinteraksi dengan masyarakat setempat untuk mendapatkan informasi tentang sejauh mana mereka mengetahui kondisi alam sekitar berikut potensi yang ada. Masyarakat suku Dayak yang menjadi penduduk asli di sebagian besar wilayah Kutai Barat telah lama hidup berdampingan dengan alam dan selama ribuan tahun berhasil menjaga kelestarian lingkungan. Sejauh yang kami amati, dengan masuknya perusahaan penambang batubara, perlahan tapi pasti telah terjadi pergeseran pola hidup dan budaya yang semula mengutamakan kelestarian alam menjadi lebih komersil. Pola hidup yang demikian rata – rata ditularkan oleh para pendatang yang datang untuk mencari keuntungan di daerah, penduduk asli yang awalnya masih menjaga tradisi lama kelamaan mulai meninggalkan tradisi leluhur dan ikut bersaing dalam mencari keuntungan. Para pemerhati budaya dan lingkungan menganggap hal tersebut sesuatu yang patut disayangkan, namun sebagian orang lain berpendapat bahwa sudah semestinya masyarakat pedalaman ikut mencicipi hasil produksi sumberdaya alam yang daerah mereka miliki. Contohnya dalam penambangan emas tradisional di sekitar hulu Sungai Boh, dari sekian banyak penambang sebagian besar adalah pendatang sementara penduduk asli mendapat keuntungan hanya dari menyewakan perahu.

Seluruh hasil penelitian tim Ekspedisi Khatulistiwa mengenai seluruh bidang yang ada, yaitu geologi, sosial budaya, flora fauna dan kehutanan diserahkan kepada pemerintah pusat untuk selanjutnya dilakukan tindak lanjut terhadap hal – hal yang menonjol. Dengan demikian, kami sebagai anak bangsa telah menyumbangkan sedikit dari yang kami miliki untuk kemakmuran negara dan masyarakat. Sementara bagi pribadi kami masing – masing, ekspedisi membawa dampak yang sangat positif dalam hal gotong royong, kerjasama tim dan kepedulian lingkungan. Hal serupa juga sepantasnya dirasakan oleh masyarakat setempat yang menjadi tuan rumah, kedatangan kami membawa pandangan baru tentang kaum pendatang. Sambutan mereka yang hangat telah kami balas dengan kesan yang hangat pula dengan harapan suatu saat jika kami kembali ke daerah ini kondisi masyarakat menjadi lebih baik.

Ekspedisi ini membawa kesan tersendiri di hati kami tim geologi dan potensi bencana, yang terdiri dari mahasiswa, pramuka dan militer, karena dengan adanya ekspedisi ini kami berkesempatan mengenal daerah baru dan potensi alam Indonesia. Selain itu, kami dapat mempererat persaudaraan dan kekompakan dengan teman sebangsa meskipun masih baru mengenal satu sama lain. Dengan semangat nasionalisme kami berusaha sebaik mungkin melaksanakan penelitian untuk mendapatkan hasil yang maksimal sehingga layak  dilaporkan dan ditindaklanjuti oleh pihak terkait. Melihat penting dan besarnya manfaat ekspedisi ini, kami berharap agar kegiatan serupa dapat dilaksanakan secara terpadu setiap tahun meliputi daerah – daerah lain di Indonesia dengan mengutamakan peneliti dan mahasiswa dari daerah untuk terlibat dalam kegiatan ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s