Long Apari Milik Siapa?

Standard

Jembatan Tiong Ohang

Dari awal ikut kegiatan pra-ekspedisi di tempat dingin seperti Situ lembang, hingga terbang menuju Kalimantan sebagai tujuan, saya menyadari begitu banyak hal yang akan mewarnai hidup saya. Mengunjungi banyak tempat yang begitu indah di Kalimantan, meski hanya kabupaten Kutai Barat yang dikunjungi. Merasakan aura yang berbeda di Kalimantan, udara yang berbeda namun tetap dibawah langit yang sama langit Indonesia. Tanah yang berbeda namun tetap tanah air Indonesia. Ada beberapa kecamatan yang telah saya kunjungi, salah satunya adalah kec Long Apari. Sebuah kecamatan di perbatasan wilayah negara Indonesia dengan Malaysia.  Tempat ini membuatku takjub. Pemandangan alam yang Allah ciptakan sungguh luar biasa. Melihat sungai Mahakam mengalir berkelok-kelok dibawah kaki pegunungan karst. Sejauh mata memandang yg terlihat adalah hutan tropis berwarna hijau. Memang pemandangan ini saya lihat dengan cara berada di atas helicopter. Namun saya berani bertaruh berada di bawah sana pun pemandangannya tidak kalah luar biasa.

Sudah kita ketahui bersama, bahwa Indonesia adalah negeri kepulauan dengan ratusan pulau yang tersebar dari Sabang hingga Merauke,dari Miangas hingga pulau Rote. Dengan kondisi seperti itulah negeri kita kaya dengan daerah-daerah perbatasan berupa lautan. Namun ada pula bagian daratan Indonesia yang berbatasan langsung dengan negeri tetangga. Termasuk wilayah ini yang memiliki batas dengan negara Malaysia berupa daratan.

Keindahan Alam Pedalaman Sungai Mahakam

Kondisi geografis Long Apari dikelilingi gunung, bukit, dan sungai. Dihubungkan dengan lembah-lembah sungai Mahakam. Dengan kondisi alam seperti ini tidak berlebihan jika saya menyebutnya sebagai daerah terluar dan nyaris terisolir. Opini ini berawal dari kedatangan saya bersama tim Ekspedisi ke kecamatan Long Apari bulan Juni lalu. Saya dan rombongan cukup beruntung karena bisa menumpang helicopter. Karena pada musim kemarau air sungai surut dan riam-riam akan sangat berbahaya jika dilalui long boat. Terlebih di riam panjang dan riam udang. Rombongan kami mendarat di sebuah lapangan terbaik dan terluas yang mereka punya.  Kesan pertama saya ketika pertama kali menjejakkan kaki di Long Apari adalah surprise. Surprise akan sambutan masyarakat yang kagum melihat helli mendarat di lapangan bola mereka, terutama anak-anak. Dan surprise melihat kenyataan bahwa sinyal telephone seluler tak ada lagi. Namun herannya hampir seluruh warga sudah memiliki handphone sendiri. Janjinya beberapa bulan lagi akan ada pemasangan menara pemancar. Tapi janji itu rupanya sudah mulai dilupakan oleh masyarakat. Dianggapnya hanya sebagai obral janji para pemenang pemilu.

Long Apari dengan kondisi alamnya yang demikian menuntut warganya hidup lebih keras. Barang kebutuhan pokok diangkut melalui sungai. Jika musim kemarau seperti ini harga bisa berkali lipat harganya. Sempat membuat saya kaget ketika musti membayar tempe dengan harga 10 ribu. Juga kaget menjumpai jenis lauk pauk alternatif yang tergolong ekstreem bagi saya. Ada ular phyton, daging babi, rusa, kancil, labi-labi dan juga ikan super jumbo.

Long Apari berada di hulu sungai Mahakam, yang artinya sungai disini masih jernih dan arusnya cukup deras. Namun bagi saya itu berarti berenang sepuasnya. Haha! Kegiatan MCK warga disini memang masih mengandalkan aliran sungai. Jadi tergantung kita pintar-pintar mencari posisi mandi atau mencuci baju sebelum datangnya ‘naga emas’ di hadapan kita. Tapi tetap gak ada yang mengalahkan serunya berenang sambil mendulang emas sungguhan. Ketika air surut tepian sungai melihatkan endapan berupa batu dan pasir. Dengan cara mendulang pasir di tepian sungai itu butiran halus emas dengan mudah kami dapati. Benar-benar pengalaman berharga bagi saya.

Long Apari memiliki fasilitas kesehatan sekelas Puskesmas, juga fasilitas sekolah dari TK hingga SMA. Dengan infrastruktur yang tergolong layak, seharusnya kecamatan ini bisa menjadi pintu gerbang perbatasan 2 negara. Namun lagi-lagi karena faktor alam dan geografis yang menyebabkan kecamatan ini menjadi tertinggal.

Sebuah pertanyaan klasik sempat terlontar dari seorang warga, “Apakah pemerintah yg ada di Jawa sana ingat dan perhatian dengan kita-kita ini?”. Dengan senyum kecut saya pun menjawab asal, “hmmm tidak juga sepertinya..”. Sedih memang mendengar adik-adik yang ingin melanjutkan pendidikan setamat SMA namun terbentur jarak dan biaya. Atau keluh kesah orang tua-orangtua yang ingin jaminan kesehatan sekelas rumah sakit. Sebuah renungan besar bagi saya.

Sebenarnya di kabupaten Kutai Barat ini terdapat 2 kecamatan yang berbatasan langsung dengan Malaysia. Yakni Long Pahangai dan Long Apari. Letaknya bersebelahan. Namun kondisi dua wilayah ini berbeda jauh. Di LongPahangai sinyal telepone seluler masih dapat kita rasakan. Begitu juga dengan fasilitas penunjang lainnya yang jauh lebih mendapat perhatian. Moda transportasi sungai masih dapat dijangkau dibanding menuju LongApari. Dan ada hal lain yang mengejutkan. Menurut data peta perbatasan BNPB, wilayah Kutai Barat yang berbatasan langsung dgn Malaysia hanyalah kec.LongPahangai. Mungkin data ini belum terupdate, mengingat banyak sekali pemekaran wilayah di sini. Namun itu bukanlah alasan yang masuk akal dengan menganak-tirikan LongApari. Maka jangan kaget jika suatu saat kita mendengar berita LongApari masuk ke dalam wilayah negri Jiran. Karena sebagian warganya pun akan lebih senang jika memilih Malaysia sbg negerinya karena memberikan jaminan naiknya taraf hidup mereka. Sebuah ironi di wilayah perbatasan.

Menikmati suguhan alam yang unik dan indah di Long Apari tidak menghentikan pikiran saya pada suatu sore. Ingin sekali pertanyaan itu keluar dari mulut saya, “Jadi Long Apari ini milik siapa??”.

Anindita F Bestari (Tim Sosial Budaya)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s