Jendral Otong, Si Cilik Nan Cekatan dari Long Apari

Standard

 Long Apari, 29 Juni 2012

Berpetualang bersama Otong

Di daerah terpencil seperti di desa Tiong Ohang, kecamatan Longapari ini ternyata ada seorang jenderal. Nama sebenarnya Muhamad Angsyah tapi teman-temannya biasa memanggil dia Otong. Usianya baru  7 tahun dan masih duduk di kelas 2 SD. Dia mengaku paling pandai bermain beyang (gasing), namun saya yakin dia lebih pandai berenang di sungai.

Saat itu saya dan anggota tim ekspedisi baru saja tiba di desa ini. Otong dan teman-temannya langsung mengajak saya pergi melihat sungai.  Sejak itulah dia makin sering bertemu kami, makin sering bermain ke Koramil sebagai camp tempat kami tinggal. Si otong ini anak yang ringan tangan, senang mengobrol, dan selalu riang. Dengan gayanya yang sok serius tapi polos selalu membuat saya tertawa geli. Cerita-ceritanya sangat khas anak kecil.

Di Koramil ini saya tidak sendirian. Ada teman-teman dari militer yang tergabung dalam tim Ekspedisi Khatulistiwa. Di antaranya dari Kostrad, satuan Kopassus, Marinir, dan juga Paskhas. Kami bersama-sama melakukan kegiatan social komunikasi  dan penelitian di kampung ini. Tidak ketinggalan si Otong yang jadi informan sekaligus pemandu kami.

Sampai-sampai dia kuberi julukan “jenderal”. Cerita ini bermula di suatu kesempatan Otong menjadi tour guide dadakan. Ceritanya sore itu sangat cerah,  saya dan teman-teman ingin menuju ke sebuah air terjun di dekat anak sungai. Tiba-tiba  kami bertemu Otong dan langsung saja kami daulat dia menjadi penunjuk jalan. Maka terbentuklah tim kecil beranggotakan dua orang sipil dan dua orang militer dari Kopasus dan Marinir. Dengan kaki kecilnya si Otong ini memimpin kami menuju air terjun. Tidak sampai disitu saja, kami meneruskan perjalanan pulang melalui jalur sungai. Menyusuri anak sungai Mahakam yang sangat jernih airnya. Dengan kedalaman rata-rata setinggi perut orang dewasa.  Sehingga cukup dalam bagi Otong. Untungnya dia jago berenang. Sekitar 1 jam kami berjuang menyusuri sungai. Antara takut terseret arus atau terpeleset di batuan. Dasar sungai juga terkadang berupa lumpur yang sangat menyulitkan kami berjalan. Sandal saya bahkan nyaris copot terhisap lumpur pekat. Kami juga berjuang menyelamatkan kamera agar tidak tercemplung, bergantian membawanya di atas kepala agar tidak basah.

 Di dalam militer terdapat istilah jelajah ‘’ralasuntai’’ yang artinya rawa laut sungai dan pantai. Dan sepertinya apa yang kami lakukan sudah pantas disebut sebagai tim jelajah ralasuntai. Cukup menggelikan memang, seorang bocah kecil 7 tahun menjadi pemimpin, menjadi komandan perjalanan bagi seorang Kopasus dan Marinir serkaligus. Ditambah lagi dengan mahasisiwi seperti saya yang agak terseok-seok mengikuti langkah dia yang supercepat. Bahkan terkadang dengan gayanya yang lucu dia memberi arahan dan saran bagi kami. Memberi pengarahan tentang jalan mana yang diambil atau tentang pohon mana yang bisa kita makan buahnya. Tentu saja bagi seorang militer ini adalah hal yang sudah umum diketahui. Namun begitulah Otong, si Jendral cilik Longapari.

Anindita Bestari (Tim Sosial Budaya)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s