Demokrasi Ala Kampung Adat

Standard
Bersama istri petinggi adat di Kampung Batu Majang

Di dalam kehidupan bermasyarakat, kampung adat memiliki banyak upacara-upacara dan ritual yang dipimpin oleh seorang yang biasa disebut kepala adat. Kepala adat ini ditunjuk oleh masyarakat berdasarkan pengalaman dan kemampuan yang dimiliki. Namun apa jadinya jika pemilihan kepala adat menggunakan cara pemilihan umum. Seperti yang marak terjadi dalam pemilihan kepala daerah. Dimana terdapat lebih dari satu calon kepala adat. Untuk kemudian diambil dari perolehan suara terbanyak. Sehingga terdapat kemungkinan-kemungkinan menang kalah dari masing-masing kubu.

Ketika masyarakat adat dipaksa untuk berdemokrasi. Maka akan ada korban dari system demokrasi itu sendiri. Akan ada pihak-pihak yang menjadi korban atas persaingan. Entah itu dari calon kepala adat atau dari para pendukungnya. Ada cerita menarik tentang pemilu kepala adat ini. Terjadi sekitar awal tahun 2012. Tersebutlah sebuah kampung bernama Long Bagun Hulu. Di sana sedang diadakan pemilihan kepala adat yang baru. Masing-masing penduduk memiliki hak memilih di antara 5 orang calon kepala adat. Juga memiliki hak untuk memberikan kepercayaan pada kepala adat nantinya. Kemudian cerita tidak mengenakan muncul dari salah seorang calonnya. Kebetulan saya mengenal dengan baik orang tersebut. Seorang wanita paruh baya, yang memang sudah dikenal di lingkungannya dalam memimpin acara-acara adat. Mamak Hulo biasa kami panggil. Dia kebetulan dicalonkan untuk menjadi kepala adat. Ada yang mendukung ada pula yang menjegal. Ada yang simpatik ada pula yang sirik. Pada hari berlangsungnya penyoblosan, didapati beberapa surat suara yang dengan sengaja dirusak. Gambar wajah kandidat ditempeli dengan kartu remi. Dan gambar wajah itu adalah foto dari mamak Hulo. Entah apa alasan dan tujuan si pembuat onar itu….

Memang benar kita memiliki hak penuh dalam menentukan siapa kepala adat. Namun seberapa siapkah hak pilih itu dapat kita pertanggungjawabkan. Mungkin alasannya baik mengajak masyarakat belajar berdemokrasi. Tapi menurut saya demokrasi di dalam kultur masyarakat adat tidak terlalu tepat sasaran. Masyarakat adat biasanya telah memiliki orang-orang ‘terpilih’ yang memiliki tugas memimpin jalannya upacara adat. Tanpa perlu adanya pemilihan umum seperti layaknya pilkada. Jika dipaksakan pasti akan ada upaya-upaya mengalahkan lawan. Dan ujung-ujungnya ada jurang pemisah tak kasat mata di antara masing-masing pendukung. Termasuk upaya yang dilakukan terhadap mamak Hulo tadi. Yaah… semoga saja kepala adat yang terpilih dari suara terbanyak merupakan pilihan dari suara hati masyarakatnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s