Apa Kata Geologi Tentang Manik Batu

Standard

Pemberian gelang manik sebagai pertanda diterimanya keberadaan kita sebagai keluarga masyarakat setempat

Seperti yang telah diulas sebelumnya, bahwa manik merupakan salah satu ikon dari budaya suku Dayak yang hingga kini keberadaannya tidak dapat dipisahkan dengan hampir seluruh rangkaian budaya lainnya. Bagi suku Dayak, manik memiliki arti penting dan sakral yang menjadikan manik memiliki nilai lebih dari sekedar perhiasan, dan jika dipahami lebih dalam warna-warni manik pun sebenarnya mengandung makna khusus. Biji manik yang umum dijumpai saat ini biasanya terbuat dari plastik yang diimpor dari Cina, namun dulunya biji manik terbuat dari batu yang diwarnai dan saat ini disebut sebagai “manik batu”.

Berbicara tentang batu, pastilah pikiran kita langsung tertuju pada geologi. Nah, kira – kira bagaimana pendapat geologi tentang manik batu yang faktanya merupakan barang yang saat ini langka dan menjadi sesuatu yang sangat berharga terutama bagi masyarakat suku Dayak. Tulisan ini merupakan hasil pengamatan visual secara megaskopis dari peneliti geologi setelah mengamati secara sekilas manik batu yang disimpan oleh salah seorang warga suku Dayak bahau.

Kira-kira “manik batu” terbuat dari batu apa ya???

Warna-warni manik, dalam hal ini manik batu, yang dirangkai dengan sangat rapi membentuk berbagai macam perhiasan sebenarnya mengundang pertanyaan yang menggelitik untuk dijawab secara geologi. Pada suatu kesempatan, saya dari tim peneliti geologi berkesempatan menyaksikan secara langsung manik – manik batu yang dirangkai menjadi sebuah “gendongan bayi” dan dipajang di rumah salah seorang warga suku Dayak Bahau dan menurut warga tersebut umur barang ini sudah puluhan tahun dan turun temurun diwariskan dari pendahulu mereka. Berbeda dengan manik yang terbuat dari plastik, bentuk manik batu umumnya tidak teratur dan warnanya agak kusam mungkin karena sistem pewarnaan yang alami dan telah berumur sangat tua. Manik – manik batu ini dibuat dari butiran kuarsa yang aslinya berwarna putih kusam yang kemudian diwarnai, butiran kuarsa banyak ditemukan di daerah sekitaran Long Bagun, kemungkinan berasal dari batu konglomerat yang mengandung butiran kuarsa dengan ukuran lebih dari 2 mm. Satu hal yang sangat unik adalah kuarsa merupakan jenis batuan yang sangat sulit diwarnai, hal ini mengundang pertanyaan kira – kira bagaimana orang – orang Dayak kuno mewarnai butiran kuarsa ini menjadi manik batu yang berwarna memikat. Sayangnya saya tidak berkesempatan mencari informasi lebih lanjut mengenai proses pewarnaan manik batu ini, barangkali pertanyaan ini dapat dijawab melalui penelitian oleh tim peneliti sosial budaya.

Selain dari butiran kuarsa, beberapa manik terbuat dari berbagai jenis batuan yang tidak diwarnai lagi dan tetap mempertahankan warna asli batuan tersebut, batuan – batuan tersebut antara lain batu obsidian yang berwarna hitam, bisaanya digunakan sebagai manik batu yang ukurannya lebih besar dari manik batu lainnya dan dianggap sebagai manik yang paling utama atau “raja manik”. Secara geologi, batu obsidian adalah jenis batuan beku yang terbentuk dari pendinginan lava secara cepat karena pada saat keluar ke permukaan, lava tersebut langsung berinteraksi dengan air, sehingga berstruktur gelasan. Manik – manik batu berwarna merah dan hijau yang digunakan sebagai gelang dan kalung terbuat dari batu rijang dan kalsedon,jenis batuan ini umumnya merupakan batuan yang terbentuk dari presipitasi mineral silika, sangat keras dan banyak dimanfaatkan sebagai alat batu oleh manusia purba. Selain itu adapula manik yang berwarna ungu terbuat dari batu amethyst atau kecubung, untuk jenis yang satu ini sudah sangat langka dan mungkin hanya bisa ditemui di toko-toko perhiasan. Batu amethyst sebenarnya adalah jenis kuarsa yang berwarna ungu, warna ungu ini berasal dari kandungan mangan dan sulfur, selain warnanya indah batuan ini juga sangat keras sehingga cocok digunakan sebagai batu hias atau batu permata (gemstone).

Orang Dayak dapetin batu-batu kayak gitu dari mana sih???

Batu – batu yang menjadi bahan dasar manik diatas sangat banyak ditemui di daerah Kalimantan, sejauh yang saya amati jenis – jenis batuan tersebut mudah diperoleh dari endapan sungai Mahakam yang campur aduk. Untuk butiran kuarsa, banyak ditemukan di sekitaran Long Bagun dalam batu konglomerat kuarsa, sementara itu untuk jenis batu obsidian, batu rijang dan kalsedon banyak ditemukan di daerah perbukitan pada zona tinggian Kalimantan. Jenis – jenis batuan tersebut terbentuk melalui serangkaian proses geologi yang terjadi sepanjang jutaan tahun di Pulau Kalimantan, bisa dibayangkan seandainya serangkaian proses geologi tidak terjadi di Kalimantan maka bebatuan yang berwarna warni itu tidak akan terbentuk dan tentunya manik batu yang menjadi perhiasan dan asesoris seperti yang kita temui saat ini tidak akan pernah ada.

Demikian yang dapat dihimpun oleh peneliti geologi, semoga tulisan ini mampu membuka wawasan dan pandangan kita tentang betapa kekayaan alam baik itu dari segi flora fauna, kehutanan dan geologi sangat berpengaruh terhadap budaya dan peradaban suku-suku pedalaman di Kalimantan. Untuk itu, suatu kewajiban bagi kita untuk selalu “Peduli dan Lestarikan Alam Indonesia”.

(Anis Kurniasih, Tim Peneliti Geologi)

One response »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s