Uwa-uwa yang terkekang

Standard

image

Uwa Uwa Kalimantan (Hylobates muelleri) merupakan salah satu primata endemik Pulau Kalimantan. Primata ini tersebar di bagian utara dan timur Pulau Kalimantan termasuk di wilayah kecamatan Long Apari. Primata ini dinamakan Uwa-Uwa karena sering berteriak “UWA UWA” untuk melindungi diri dari ancaman. Uwa-Uwa Kalimantan memiliki rambut berwarna abu-abu kecoklatan. Pada bagian kepala terdapat rambut berwarna putih yang membentuk cincin di sekitar wajah. Uwa Uwa hidup di hutan hujan tropis dan beraktivitas pada siang hari. Uwa-Uwa memiliki lengan yang panjang yang digunakan untuk bergelantungan di atas pohon. Uwa-Uwa rata-rata memiliki bobot sekitar 5,7 kg. Uwa-Uwa hidup monogami atau hanya memiliki satu pasangan. Uwa-Uwa digolongkan hewan yang terancam berdasarkan IUCN. Di Kalimantan, Uwa Uwa dilindungi di beberapa taman nasional antara lain Taman Nasional Betung Kerihun, Taman Nasional Bukit Baka-Bukit Raya, Taman Nasional Kayan Mentarang, Taman Nasional Kutai, Hutan Lindung Sungai Wain, dan Taman Nasional Tanjung Puting.

Keberadaan Uwa-Uwa di wilayah kecamatan Long Bagun dan Long Apari memang dapat dengan mudah dijumpai di hutan. Bahkan di Kampung Batu Majang, Kecamatan Long Bagun, Uwa-Uwa hidup berdampingan dengan perkampungan warga. Pada pagi hari sering terdengar suara Uwa Uwa dari hutan yang terletak di bukit belakang kampung. Aturan adat yang diberlakukan di Batu Majang turut membantu kelestarian satwa-satwa yang ada di kampung Batu Majang.

Kondisi berbeda dijumpai di Kecamatan long Apari. Meskipun keberadaannya terancam punah, masih ada masyarakat yang memelihara Uwa-Uwa di rumah. Uwa-Uwa tersebut biasanya dipelihara di kandang yang terbuat dari kayu. Di Tiong Ohang sendiri Tim Ekspedisi Khatulistiwa mendata 4 keluarga yang memelihara Uwa Uwa, sementara di kampung Noha Silat terdapat satu keluarga yang memelihara. Uwa-Uwa tersebut diberi pakan yang sama seperti makanan manusia seperti nasi, gorenan, dan sayur. Salah satu warga yang memelihara Uwa-Uwa adalah Ibu Sinta. Uwa-Uwa yang dipelihara telah berusia lebih dari 15 tahun. Keluarganya memelihara sejak Uwa-Uwa tersebut masih kecil. Uwa-Uwa dipelihara disebuah kandang kayu yang terletak di belakang rumah. Uwa-Uwa tersebut dalam kondisi cukup memprihatinkan. Tubuhnya kurus karena tidak diberi pakan sesuai habitatnya. Ibu Sinta sendiri berencana melepas liarkan Uwa-Uwa peliharaannya agar bisa hidup bebas di alam.

Warga lain yang memelihara Uwa-Uwa adalah bapak Along yang beralamat di kampung Noha Boan . Uwa-Uwa yang dimilikinya masih bayi. Uwa-Uwa tersebut merupakan Uwa-Uwa yang ia dapatkan di ladang dengan cara menembak induknya yang sedang menggendong bayi. Induk yang mati tersebut disantap sementara anaknya dipelihara. Berbeda dengan Ibu Sinta yang ingin melepasliarkan Uwa-Uwa yang dimilikinya, Bapak Along menawarkan anak Uwa-Uwa yang dimilikinya seharga 1 juta rupiah.

Uwa-Uwa memiliki nasib yang hampir sama seperti Burung Enggang, Macan Dahan dan Beruang Madu yang sering diburu masyarakat untuk kepentingan adat. Saat ini masyarakat mengakui bahwa satwa-satwa tersebut semakin jarang dijumpai. Meskipun sudah ada undang undang yang melarang perburuan satwa langka, namun tidak semua masyarakat memahaminya. Selain diburu masyarakat setempat, satwa-satwa langka yang ada di Kalimantan juga diminati oleh kolektordi luar pulau. Sehingga selama ada permintaan, maka perburuan satwa langka akan terus terjadi.

Berkaca dari hutan yang tetap lestari di kampung Batu Majang, maka pelibatan masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan sangat diperlukan. Sebagian besar masyarakat pedalaman Kalimantan (tempat dimana satwa-satwa langka masih dapat dengan mudah dijumpai) masih memegang hukum adat. Oleh karena itu, salah satu upaya untuk menegakkan aturan pelarangan perburuan satwa-satwa langka tersebut adalah dengan mengaturnya dalam hukum adat. Hukum adat lebih dapat menjangkau masyarakat pedalaman daripada aparat penegak hukum negara yang keberadaannya sulit menjangkau kawasan pedalaman.

One response »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s