Zona tinggian Yang Kaya akan emas

Standard

Zona tinggian dibedakan dari zona cekungan terutama berdasarkan kondisi topografi dan jenis batuan yang ditemukan. Topografi zona tinggian di Kutai Barat dikenali dengan adanya bukit – bukit terjal memanjang berarah utara – barat yang dikenal dengan North West High atau Tinggian Kutching. Tinggian Kutching sebenarnya meliputi daerah perbukitan terjal sepanjang perbatasan RI – Malaysia di wilayah timur Kalimantan termasuk Kabupaten Kutai Barat dan Putussibau. Menurut peta geologi lembar Long Pahangai, jenis batuan yang terdapat di daerah ini meliputi jenis batuan beku plutonik, batuan sedimen laut dalam dan batuan metamorf yang terpatahkan dan terlipatkan, di beberapa tempat tercampur oleh proses tektonik.

Selama penelitian di daerah tinggian yang meliputi kecamatan Long Bagun dan Long Pahangai, unit geologi dan potensi bencana menemukan singkapan yang mewakili seluruh jenis batuan, yakni batuan beku, sedimen dan metamorf. Jenis batuan beku yang ditemukan adalah batuan beku basa yakni gabbro yang merupakan batuan beku terobosan (intrusif), terbentuk dari pembekuan magma yang bersifat basa (Gambar 3).

clip_image002clip_image004

Gambar 3. Singkapan batuan beku Gabbro

Jenis batuan sedimen yang terdapat di daerah ini dibedakan dalam dua jenis yakni batuan sedimen laut dangkal dan batuan sedimen laut dalam. Yang termasuk dalam batuan sedimen laut dangkal adalah batugamping, terdapat di Desa Mamahak dan Desa Sei Boh Kecamatan Long Bagun. Ciri – ciri batuan ini adalah memiliki kandungan fosil binatang laut yang hanya dapat hidup di lingkungan laut dangkal seperti moluska, foramnifera dan koral. Di kedua lokasi tersebut, batugamping mengalami proses karstifikasi membentuk suatu lahan yang khas dengan kenampakan goa vertikal dan horisontal yang dihiasi dengan ornamen – ornamen seperti stalaktit dan stalakmit, serta beberapa aliran sungai bawah tanah (Gambar 4).

clip_image006clip_image008

Gambar 4. Pengukuran lapisan batugamping di Desa Mamahak Kecamatan Long Bagun (kiri), dan kenampakan ornamentasi goa bawah tanah berupa stalaktit dan stalakmit (kanan).

Sementara itu, jenis batuan sedimen laut dalam yang ditemukan adalah batu rijang berlapis yang sebagian telah terpatahkan dan terlipatkan, batu rijang sangat keras sehingga oleh nenek moyang manusia batuan ini digunakan sebagai alat batu yang berfungsi untuk memotong dan memecah bahan makanan. Jenis batuan sedimen laut dalam lainnya berupa endapan flysch yaitu perselingan batupasir dengan batulempung yang terkena tekanan akibat gerak tektonik sehingga batupasir terpatahkan dan menjadi fragmen dalam batulempung (Gambar 5). Tidak jauh dari lokasi ditemukannya batuan sedimen laut dalam ini, ditemukan singkapan batuan metamorf serpentinit, batuan ini merupakan batuan malihan yang terbentuk dari batuan beku basa atau ultrabasa yang terkena tekanan oleh pembebanan batuan diatasnya maupun oleh gerak tektonik. Sesuai dengan peta geologi lembar Long Pahangai, susunan batuan ini merupakan kompleks batuan tertua di pulau Kalimantan.

clip_image010clip_image012

Gambar 5. Singkapan batuan sedimen laut dalam berupa perselingan batupasir dan batulempung (kanan) dan batupasir – batulempung berstruktur boudinage (kiri).

clip_image014clip_image016

Gambar 6. Singkapan Rijang berlapis yang terlipatkan dan terpatahkan.

Secara ekonomis, jenis – jenis batuan di daerah tinggian memiliki potensi sumberdaya mineral terpendam yang tidak terlalu banyak digali baik oleh masyarakat maupun pemerintah. Contohnya penambangan emas tradisional yang banyak terdapat di aliran Sungai Boh, Sungai Lebusan dan Sungai Mahakam (Gambar 7). Penambangan ini dilakukan secara swadaya oleh masyarakat tanpa koordinasi dan pengawasan dari dinas terkait, sehingga lama – kelamaan memicu timbulnya isu pencemaran lingkungan. Hingga saat ini, penambang liar yang masih beroperasi tidak terhitung jumlahnya dan semakin bertambah, situasi ini sama sekali tidak mendapat perhatian dari pemerintah daerah padahal jika hal ini dibiarkan berlanjut maka lingkungan daerah aliran sungai tersebut akan terancam kelestariannya.

clip_image018clip_image020

Gambar 7. Penambangan emas oleh masyarakat di aliran Sungai Boh

(Anis Kurniasih, Peneliti Geologi)

2 responses »

  1. Pingback: Zona tinggian Yang Kaya akan emas | sasense

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s