Monthly Archives: August 2012

LONG BAGUN BANJIR!

Standard

199723_265613040224220_1656117249_n

Suasana banjir di Pasar Long Bagun Ulu

Kabar duka dari kecamatan Long Bagun, Kabupaten Kutai Barat. Telah teradi banjir yang merendam rumah-rumah di kawasan Long Bagun Ulu dan Ujoh Bilang akibat meluapnya Sungai Mahakam. Kondisi terakhir pada saat tulisan ini dibuat dapat dilihat dari gambar di atas. Jarak ketinggian antara pasar dengan permukaan Sungai Mahakam cukup tinggi, sehingga dapat dibayangkan derasnya arus Sungai Mahakam.

Semoga warga Long Bagun dalam kondisi baik dan tabah dalam menghadapi banjir Sungai Mahakam kali ini. Mari kita jaga kelestarian alam agar seluruh masyarakat dapat dijauhkan dari bencana alam.

Uwa-uwa yang terkekang

Standard

image

Uwa Uwa Kalimantan (Hylobates muelleri) merupakan salah satu primata endemik Pulau Kalimantan. Primata ini tersebar di bagian utara dan timur Pulau Kalimantan termasuk di wilayah kecamatan Long Apari. Primata ini dinamakan Uwa-Uwa karena sering berteriak “UWA UWA” untuk melindungi diri dari ancaman. Uwa-Uwa Kalimantan memiliki rambut berwarna abu-abu kecoklatan. Pada bagian kepala terdapat rambut berwarna putih yang membentuk cincin di sekitar wajah. Uwa Uwa hidup di hutan hujan tropis dan beraktivitas pada siang hari. Uwa-Uwa memiliki lengan yang panjang yang digunakan untuk bergelantungan di atas pohon. Uwa-Uwa rata-rata memiliki bobot sekitar 5,7 kg. Uwa-Uwa hidup monogami atau hanya memiliki satu pasangan. Uwa-Uwa digolongkan hewan yang terancam berdasarkan IUCN. Di Kalimantan, Uwa Uwa dilindungi di beberapa taman nasional antara lain Taman Nasional Betung Kerihun, Taman Nasional Bukit Baka-Bukit Raya, Taman Nasional Kayan Mentarang, Taman Nasional Kutai, Hutan Lindung Sungai Wain, dan Taman Nasional Tanjung Puting.

Read the rest of this entry

bahaya laten di kutai barat: banjir dan longsor

Standard

24052012399

Sungai Mahakam

Kondisi kebencanaan daerah Kutai Barat yang sangat menonjol adalah ditemukannya beberapa lokasi tanah longsor atau gerakan tanah di sejumlah titik yang merupakan jalur perhubungan antar kecamatan maupun antar kabupaten. Sejauh ini, belum ada catatan korban jiwa maupun korban materiil yang ditimbulkan akibat longsor tersebut karena lokasinya terletak jauh dari area pemukiman. Namun, bencana ini sempat mengganggu arus transportasi karena lokasi longsor menutup jalan satu – satunya yang menjadi akses lintas kabupaten Kutai Barat – Malinau.

Bencana yang dirasakan sangat merugikan bagi warga adalah banjir, mengingat hampir sebagian besar pemukiman di wilayah Kutai Barat berada di bantaran sungai Mahakam. Banjir ini hampir rutin terjadi tiap musim penghujan saat aliran sungai meluap akibat suplai air bertambah. Permukaan air dapat naik hingga beberapa meter dan menggenangi daerah pemukiman di tepi sungai Mahakam. Kerugian akibat meluapnya sungai Mahakam seharusnya bias diminimalisir jika masyarakat bersedia untuk tinggal di daerah yang lebih tinggi dan menjauhi tepi sungai. Dari penelitian unit geologi dan potensi bencana di sekitar tepi sungai Mahakam, ditemukan endapan banjir yang berjarak kurang lebih 2 km dengan ketinggian lebih tinggi sekitar 25 meter dari permukaan sungai saat ini. Dengan ditemukannya endapan banjir ini, menunjukkan bahwa pada jaman dahulu pernah terjadi banjir besar hingga mencapai lokasi tempat ditemukannya endapan tersebut. Jika diteliti lebih lanjut, penemuan ini dapat menjadi informasi awal dalam penyusunan sejarah banjir sungai Mahakam sehingga masyarakat dapat menyadari seberapa besar resiko mendiami bantaran sungai besar seperti sungai Mahakam.

(Anis Kurniasih, Peneliti Geologi)

Zona tinggian Yang Kaya akan emas

Standard

Zona tinggian dibedakan dari zona cekungan terutama berdasarkan kondisi topografi dan jenis batuan yang ditemukan. Topografi zona tinggian di Kutai Barat dikenali dengan adanya bukit – bukit terjal memanjang berarah utara – barat yang dikenal dengan North West High atau Tinggian Kutching. Tinggian Kutching sebenarnya meliputi daerah perbukitan terjal sepanjang perbatasan RI – Malaysia di wilayah timur Kalimantan termasuk Kabupaten Kutai Barat dan Putussibau. Menurut peta geologi lembar Long Pahangai, jenis batuan yang terdapat di daerah ini meliputi jenis batuan beku plutonik, batuan sedimen laut dalam dan batuan metamorf yang terpatahkan dan terlipatkan, di beberapa tempat tercampur oleh proses tektonik.

Selama penelitian di daerah tinggian yang meliputi kecamatan Long Bagun dan Long Pahangai, unit geologi dan potensi bencana menemukan singkapan yang mewakili seluruh jenis batuan, yakni batuan beku, sedimen dan metamorf. Jenis batuan beku yang ditemukan adalah batuan beku basa yakni gabbro yang merupakan batuan beku terobosan (intrusif), terbentuk dari pembekuan magma yang bersifat basa (Gambar 3).

clip_image002clip_image004

Gambar 3. Singkapan batuan beku Gabbro

Jenis batuan sedimen yang terdapat di daerah ini dibedakan dalam dua jenis yakni batuan sedimen laut dangkal dan batuan sedimen laut dalam. Yang termasuk dalam batuan sedimen laut dangkal adalah batugamping, terdapat di Desa Mamahak dan Desa Sei Boh Kecamatan Long Bagun. Ciri – ciri batuan ini adalah memiliki kandungan fosil binatang laut yang hanya dapat hidup di lingkungan laut dangkal seperti moluska, foramnifera dan koral. Di kedua lokasi tersebut, batugamping mengalami proses karstifikasi membentuk suatu lahan yang khas dengan kenampakan goa vertikal dan horisontal yang dihiasi dengan ornamen – ornamen seperti stalaktit dan stalakmit, serta beberapa aliran sungai bawah tanah (Gambar 4).

clip_image006clip_image008

Gambar 4. Pengukuran lapisan batugamping di Desa Mamahak Kecamatan Long Bagun (kiri), dan kenampakan ornamentasi goa bawah tanah berupa stalaktit dan stalakmit (kanan).

Sementara itu, jenis batuan sedimen laut dalam yang ditemukan adalah batu rijang berlapis yang sebagian telah terpatahkan dan terlipatkan, batu rijang sangat keras sehingga oleh nenek moyang manusia batuan ini digunakan sebagai alat batu yang berfungsi untuk memotong dan memecah bahan makanan. Jenis batuan sedimen laut dalam lainnya berupa endapan flysch yaitu perselingan batupasir dengan batulempung yang terkena tekanan akibat gerak tektonik sehingga batupasir terpatahkan dan menjadi fragmen dalam batulempung (Gambar 5). Tidak jauh dari lokasi ditemukannya batuan sedimen laut dalam ini, ditemukan singkapan batuan metamorf serpentinit, batuan ini merupakan batuan malihan yang terbentuk dari batuan beku basa atau ultrabasa yang terkena tekanan oleh pembebanan batuan diatasnya maupun oleh gerak tektonik. Sesuai dengan peta geologi lembar Long Pahangai, susunan batuan ini merupakan kompleks batuan tertua di pulau Kalimantan.

clip_image010clip_image012

Gambar 5. Singkapan batuan sedimen laut dalam berupa perselingan batupasir dan batulempung (kanan) dan batupasir – batulempung berstruktur boudinage (kiri).

clip_image014clip_image016

Gambar 6. Singkapan Rijang berlapis yang terlipatkan dan terpatahkan.

Secara ekonomis, jenis – jenis batuan di daerah tinggian memiliki potensi sumberdaya mineral terpendam yang tidak terlalu banyak digali baik oleh masyarakat maupun pemerintah. Contohnya penambangan emas tradisional yang banyak terdapat di aliran Sungai Boh, Sungai Lebusan dan Sungai Mahakam (Gambar 7). Penambangan ini dilakukan secara swadaya oleh masyarakat tanpa koordinasi dan pengawasan dari dinas terkait, sehingga lama – kelamaan memicu timbulnya isu pencemaran lingkungan. Hingga saat ini, penambang liar yang masih beroperasi tidak terhitung jumlahnya dan semakin bertambah, situasi ini sama sekali tidak mendapat perhatian dari pemerintah daerah padahal jika hal ini dibiarkan berlanjut maka lingkungan daerah aliran sungai tersebut akan terancam kelestariannya.

clip_image018clip_image020

Gambar 7. Penambangan emas oleh masyarakat di aliran Sungai Boh

(Anis Kurniasih, Peneliti Geologi)

Mengenal Zona cekungan

Standard

Kabupaten Kutai Barat termasuk dalam Cekungan Kutai yang merupakan cekungan terluas dan terdalam di Indonesia. Pengertian cekungan sendiri secara geologi mengacu pada suatu daerah rendahan tempat bermuaranya aliran air dari daerah tinggian, dan menjadi tempat mengendapnya sedimen – sedimen yang terbawa oleh aliran air tersebut. Pada kenyataannya, zona cekungan tersebut saat ini telah mengalami deformasi sehingga topografinya berubah menjadi berbukit – bukit dan tidak lagi menjadi daerah rendahan. Namun, zona cekungan ini masih dapat dikenali dari jenis batuan yang ditemukan yakni dari jenis batuan sedimen seperti batupasir, batulempung dan batuan sedimen klastik lainnya yang khas terbentuk di lingkungan berair, baik sungai, rawa, maupun laut. Kondisi lingkungan yang demikian memungkinkan terbentuknya sumber – sumber energi fosil baik berupa batubara maupun minyak dan gasbumi.

Selama penelitian, unit geologi dan potensi bencana sub – korwil 07 Kutai Barat menemukan sumur gas peninggalan Belanda di Desa Mamahak Kecamatan Long Bagun, yang hingga saat ini masih mengeluarkan gas namun telah lama ditinggalkan (Gambar 1). Gas yang keluar melalui sumur ini diduga berasal dari lapisan batupasir yang berada di bawah lapisan batulempung yang retak sehingga menjadi celah tempat keluarnya gas tersebut ke permukaan. Ciri – ciri gas yang ditemukan adalah berbau menyengat dan sangat mudah terbakar oleh api, identifikasi lebih lanjut mengenai komposisi dan kadar dari gas ini perlu dilakukan sebagai langkah lanjutan untuk mengetahui potensi minyak dan gasbumi yang mungkin terdapat di lokasi ini.

clip_image002clip_image004

Gambar 1. Penemuan sumur gas peninggalan Belanda di Desa Mamahak Kecamatan Long Bagun.

Selain gasbumi, unit geologi dan potensi bencana sub – korwil Kutai Barat juga menemukan beberapa singkapan batubara antara lain di Desa Long Hubung dan Muara Bahat. Kedua daerah tersebut memiliki potensi batubara yang cukup besar jika dilihat dari ciri – ciri batubara yang ditemukan yakni ketebalan rata – rata 10 – 50 cm dan kemiringan lapisan rata – rata 30° (Gambar 2). Kondisi yang demikian sangat baik untuk diproduksi karena lapisan batubaranya cukup tebal dan relatif agak datar sehingga memudahkan proses eksploitasi. Jika membahas tentang potensi batubara di daerah Kutai Barat, akan sangat berhubungan dengan potensi batubara secara luas di Cekungan Kutai. Potensi batubara yang tinggi di wilayah Cekungan Kutai sudah umum diketahui di dunia pertambangan batubara di Indonesia, terbukti dengan beroperasinya sekian banyak perusahaan tambang batubara dalam dan luar negeri di wilayah Cekungan Kutai antara lain meliputi Kabupaten Kutai Barat, Kutai Timur, dan Kutai Kartanegara.

clip_image006clip_image008

Gambar 2. Penemuan batubara pada lokasi penambangan (kiri) dan sungai (kanan) di Desa Long Hubung Kecamatan Long Bagun

(Anis Kurniasih, Peneliti Geologi)

Tentang Geologi Kutai Barat

Standard

image

Unit geologi dan potensi bencana merupakan salah satu unit yang tergabung dalam tim Ekspedisi Khatulistiwa Sub – Korwil 07 Kutai Barat, disamping unit – unit lainnya seperti flora fauna, kehutanan dan social budaya. Unit geologi dan potensi secara umum meneliti tentang kondisi geologi yang meliputi jenis batuan, morfologi, dan struktur geologi di daerah Kutai Barat, dan secara khusus mencari potensi – potensi sumberdaya energi maupun mineral berdasarkan kondisi geologi tersebut. Berikut adalah hasil penelitian dari temuan – temuan unit geologi dan potensi bencana selama tiga bulan menempuh ekspedisi.

Kondisi geologi daerah Kutai Barat secara umum terbagi dalam dua zona fisiografis, yaitu zona cekungan dan zona tinggian. Daerah Kutai Barat sebagian termasuk dalam Cekungan Kutai yang terkenal sebagai cekungan sedimen paling produktif saat ini, sebagian lagi merupakan daerah tinggian yang termasuk dalam deretan tinggian Kutching yang berarah utara – barat pulau Kalimantan atau dikenal juga dengan North-West High. Kedua zona fisiografis ini dibedakan satu sama lain berdasarkan kondisi topografi dan jenis batuan yang ditemukan. Masing – masing zona fisiografis tersebut memiliki kondisi geologi yang berbeda demikian pula potensi yang dimilikinya.